- Pemerintah Jamin Harga BBM Subsidi dan Non-Subsidi Tidak Mengalami Kenaikan
- Pemkot Semarang-Kendal Kolaborasi Proyek PSEL
- Pemerintah Percepat Program Perumahan Rakyat
- Presiden Prabowo Subianto Komitmen Renovasi 300 Ribu Sekolah di Indonesia
- Kemenhub Umumkan H-4 Lebaran 6,25 Juta Masyarakat Memilih Menggunakan Transportasi Umum
Pemkot Semarang-Kendal Kolaborasi Proyek PSEL
Berita Terkini – Seperti yang kita tahu, Kota Semarang merupakan Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah.
Sebagai Ibu Kota, maka Kota Semarang harus menjadi kota yang maju, bersih, dan berkelanjutan.
Diketahui, saat ini Kota Semarang telah mempunyai slogan ATLAS (Aman, Tertib, Lancar, Asri, dan Sehat).
Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang juga terus berupaya semaksimal mungkin agar Kota Semarang mampu menjadi kota yang unggul dan menjadi pusat penopang ekonomi Provinsi Jawa Tengah.
Untuk mewujudkan impian tersebut, maka Pemkot Semarang telah mempunyai beberapa program unggulan, seperti Program Semarang Bersih (pengelolaan sampah), Pendidikan Berkeadilan, Infrastruktur Terawat, Semarang Sehat (UHC), dan Semarang Inklusif.
Meskipun telah mempunyai beberapa program unggulan, tetapi program yang harus difokuskan dan menjadi prioritas utama adalah program untuk penanganan bencana banjir dan rob.
Karena, sejak beberapa tahun yang lalu, Kota Semarang telah dikenal sebagai Kota yang selalu banjir dan rob, padahal jika dilihat dari perkembangan pembangunan infrastruktur, maka saat ini Kota Semarang telah mempunyai sejumlah bendungan dan waduk.
Banyak masyarakat yang menilai bahwa banjir di Kota Semarang disebabkan karena tingginya volume sampah yang ada, bahkan berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup Semarang, maka dijelaskan bahwa produksi sampah di Kota Semarang mampu mencapai 1.229 ton per hari.
Produksi sampah harian tersebut sudah tidak wajar, dan melebihi kapasitas pengolahan yang ada.
Jadi menurut sejumlah pakar, program yang sangat penting dan harus dikembangkan ialah pengolahan sampah di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Baru-baru ini, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng mengklaim bahwa permasalahan sampah memang menjadi salah satu masalah serius yang ada di Kota Semarang.
Oleh karena itu, saat ini Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang telah resmi bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah untuk membangun pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) di daerah Jawa Tengah, sebagai upaya penanganan krisis sampah dan banjir secara regiponal.
Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan kesepakatan oleh tiga pihak, yakni Pemkot Semarang, Pemkot Kabupaten Kendal, Pemprov Jawa Tengah, dan disaksikan langsung oleh MEnteri Lingkungan Hidup.
Prosesi penandatanganan tersebut dilakukan di Ruang Rapat Gedung B Lantai 5 Kantor Gubernur Jawa Tengah.
Pada dokumen kesepakatan kerja sama tertulis masing-masing tugas dan tanggung jawab yang harus dijjalankan oleh sejumlah Pemerintah lintas daerah, seperti Pemprov Jawa Tengah berperan sebagai koordinator dan pengawasan, Pemkot Semarang dan Pemkot Kendal berperan seabagai aspek teknis penanganan sampah, pengolahan sampah, penyedia pra sarana, dan penyedia bahan baku PSEL.
Dalam pelaksanaannya, maka dokumen kerja sama lintas daerah tersebut mencakup seluruh rangkaian penyelanggaraan PSEL, mulai dari tahap perencanaan, alokasi anggaran, pembangunan infrastruktur, tahap operasional, pemelirahaan, penguatan kelembagaan, dan manajemen risiko.
Agustina Wilujeng menjelaskan, saat ini pihak Pemkot Semarang telah mempunyai strategi paralel selama masa pembangunan sistem pengolahan sampah yang di estimasi akan selesai dalam waktu tiga tahun kedepan, strategi paralel yang dimaksud ialah Pemkot Semarang tidak hanya memastikan pembangunan PSEL berjalan lancar saja, melainkan Pemkot Semarang akan menggelar program “Wegah Sampah” untuk mengurangi produksi sampah dari sumbernya.
Tanggapan Menteri Lingkungan Hidup
Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq mengatakan, perjanjian kerja sama pengolahan sampah lintas daerah merupakan bukti nyata bahwa permasalahan sampah adalah isu nasional yang harus diselesaikan bersama-sama dengan pendekatan teknologi yang unggul, sehingga sampah dapat diolah menjadi barang yang bermanfaat, bernilai dan bermutu tinggi.
Hanif Faisol Nurofiq menjelaskan, program PSEL adalah langkah yang sangat efektif untuk mereduksi timbulan sampah secara signifikan, dan sejumlah negara maju di dunia juga telah menggunakan program ini sejak beberapa tahun yang lalu.
Bahkan, beberapa negara maju di dunia melakukan impor sampah karena kekurangan bahan baku (sampah) untuk kebutuhan energi listrik harian.
Hal tersebut sangat berbanding terbalik dengan negara Indonesia, karena negara Indonesia justru terjadi isu krisis sampah, oleh karena itu, kolaborasi dengan sejumlah negara maju juga harus diperlukan, karena mengingat mereka jauh lebih dulu dan menjadi senior dalam pengembangan proyek PSEL.